Sejarah Desa Wanagiri

  1. SEJARAH DESA WANAGIRI
Konon menurut cerita-cerita orang tua, bahwa Desa Wanagiri adalah Desa yang termasuk masih muda karena baru terbentuk pada tahun 1973 yang merupakan penggabungan dari tiga dusun/banjar yang sebelumnya merupakan desa lain yaitu : Banjar Dinas Asah Panji termasuk wilayah desa Panji, Banjar Alas Ambengan termasuk wilayah Desa Ambengan yang sekarang namanya Banjar Dinas Bhuanasari sesuai SKp Bupati Nomor. 10 tahun 1989 dan Banjar Yeh Ketupat termasuk wilayah Desa Gitgit
Sebelum gunung agung meletus tahun 1963 perkebunan rakyat Desa Wanagiri merupakan kawasan hutan belantara dan pada waktu itu di Banjar Dinas Asah Panji hanya ada kurang lebih sepuluh orang penghuni. Kesepuluhan orang tersebut menemukan wilayah ini sebagai perkebunan kopi, sehingga untuk memudahkan urusan administrasi mereka membuka jalan setapak ke Desa Panji dengan kesemangatannya merintis jalan maka terwujudlah jalan setapak dengan panjang jurang lebih 5 km yang sampai sekarang jalan tersebut bahkan telah di aspal sepanjang 1,3Km, dengan lebar 6 M yaitu jalan puncak manik.
Banjar Alas Ambengan juga sebelumnya merupakan kawasan hutan yang banyak padang alang-alangnya sehingga alas ambengan berarti “ Hutan Alang-alang”, setelah beberapa penduduk merabas hutan dan mulai mengembangkan tanaman kopi serta membuat tempat tinggal ( pondok ) dan membuat jalan setapak yang menghubungkan desa Gitgit.
Banjar Dinas Yeh Ketipat, nama Banjar ini diambil dari adanya Pelinggih di salah satu mata air dimana mata air tersebut hingga sekarang di beri nama Pura Tirta Ketipat. Berawal dari perjalanan Ki Barak Panji dari puri Klungkung ke desa Panji yang diiringi oleh para pengikutnya dan pada suatu saat beliau melewati batu mejan dan beristirahat di sini sambil menikmati bekal ketupat, manum setelah selesai makan seluruh pengikutnya minta air minum, karena letak air sangat jauh dibawah maka Ki Barak Panji mengambil keris Pajenengan lalu di tancapkan ke tanah, pada tempat itu akhirnya  keluarlah air suci yang sampai sekarang di sebut Tirta Ketipat. Pada mulanya di palemahan Yeh Ketipat ada 3 orang penghuni antara lain : 1. Pan Reken. 2. Pan Kandi . 3. I Gusti Nyoman Sempidi yang ketiganya telah almarhum. Lama kelamaan akhirnya terbentuknya satu dusun yang termasuk wilayah Desa Gitgit.
Dengan adanya pertambahan penduduk di masing-masing wilayah banjar Dinas dan sangat sulitnya berhubungan dengan Desa-desa induk maka masing-masing banjar sepakat untuk membentuk Desa Administrasi.  Akhirnya ketiga banjar tersebut mengadakan pertemuan dimana dalam musyawarah tersebut di capai kesepakatan untuk membentuk Desa baru. Masing-masing banjar mengeluarkan calon nama-nama Desa antara lain :
Desa warnasari : dengan pertimbangan bahwa yang mendiami desa ini adalah campuran (pendatang) dari berbagai daerah .
Desa Catur Sari :  dengan pertimbangan bahwa yang mendiami desa ini adalah berbagai kasta.
Desa Wanagiri   : dengan pertimbangan karena desa ini lokasinya di daerah pegunungan kawasan hutan belantara dengan pengertian : wana artinya Hutan atau Alas ( Bahasa Bali), dan Giri artinya Gunung (bukit).

Ketiga nama calon desa tersebut di ajukan ke kabupaten melalui kecamatan dan akhirnya di setujui salah satu dari ketiga nama calon desa yang diajukan yaitu desa Wanagiri dan sebagai perbekel/kepala desa yang pertamam adalah : I GEDE MAS ARTA.